Rindu yang Meradang

March 18, 2026

Beberapa hari yang lalu, bercerita aku pada Jane tentang perasaanku. Rasanya, ganjil sekali di dalam hati. Sesuatu di hatiku, meradang, sesuatu yang dalam. Kunamai, pada saat itu, sebagai rindu yang meradang. Hari ini, kutemui padanan kata yang tepat untuk hal tersebut yaitu adalah "grief". 

Beberapa waktu yang lalu pula, aku mendengarkan Di Restoran. Sebuah puisi yang kusenangi di masa remaja karya Sapardi Djoko, yang kemudian digubah menjadi musikalisasi puisi oleh Ari Reda. Puisinya bersenandung:

    "...Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang, dan bunga rumput
Kau entah memesan apa. Aku memesan batu, 
 ditengah sungai terjal yang deras"

...Kau entah memesan apa
Tapi, kita berdua saja, duduk
Aku memesan rasa sakit yang tak putus, dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar, yang asing itu"

Entah sejak kapan mulainya, aku melihat kepergian sebuah jiwa yang harumnya dalam ku kenal. Ditarik pergi, jauh-jauh dan jauh. Sampai yang saat ini kutemui seperti sesosok alien yang berpura-pura mengenakan bajunya, wajahnya, dan raganya. 

Apakah seseorang akan sakit karena kontak yang tidak dibalas?
Apakah patah hati terbentuk karena hubungan yang mulai tidak dua arah?
Tidak. Hal hal itu, tidak mengangguku. Hal-hal itu bisa kukesampingkan karena aku tahu yang sebenarnya terjadi. Aku tahu kamu tidak disitu. Bukan kamu yang mendengar kata-kata ku yang panjang lebar dan dengan tidak ada hati hanya menyimak. Bukan kamu yang hanya terdiam tanpa suara melihat sedihku. Bukan kamu seutuhnya.
Maka, hati seorang perempuan berupa aku pun mengenyampingkan perihnya dan merasakan  lebih dalam lagi. Melihat seorang laki-laki yang dihadapannya tidak dia kenal. Bukan sosok yang sama, yang ia lihat. Maka, untuk apa perih menjadi sebuah permasalahan.
Kesedihan ini lah yang menetap. Karena merindukan sosok yang aku tidak tahu pergi kemana itu. 

Maka biarkan aku saat ini menjagamu dalam ingatanku:
Kamu yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Terukir senyuman dari ujung ke ujung, dan hati yang sepanjang hari bersemi. Kamu yang selalu bisa terkoneksi dengan suara hatiku tanpa aku perlu berkata apapun. dan menenangkan semua badai.

Kamu yang tulus. Terpancar dari semua kata-kata. Laki-laki dengan hati terlembut. Hati yang penuh kasih kepada semua, dan tidak memendam amarah, apalagi pahit. Lelaki pemaaf, dan lelaki terbaik. Selalu membantu tanpa pamrih, menggunakan hatimu untuk segala hal.
Lelaki puitis dan romantis, penuh cinta dan kasih. Selalu berusaha ada untuk orang lain. Selalu berusaha ada untuk orang lain. Dan selalu berusaha melakukan yang terbaikmu untuk orang lain. 
Seorang You, dengan N, bukan anak yang terbakar matahari. 

Bila nanti, langit mengizinkan langkahmu sampai kesini, ke sebuah pertemuan yang lama sudah menjadi pengharapan, Gegap gempita sudah lama tersimpan sebagai sebuah doa. Biarkan rindu-rindu ini terbang dan terbayar lunas. Biar rindu-rindu ini dapat menemui sebuah hati yang utuh. Dan yang meradang biar menjadi sejuk. Yang pergi bisa kembali penuh. Rindu terbang dalam tatapan-tatapan, dua senyuman, dan getaran yang kita berdua sama kenal.

Dan bila perpisahan ini, sudah menjadi takdir yang dikehendaki juga, 
Maka pun akan aku ikhlaskan
dan semua rindu akan menjelma nyanyian
Menjadi dongeng sebelum tidur, sebuah kisah yang pada suatu masa begitu menggembirakan, penuh mimpi dan harapan
Indahnya sebuah pertemuan, yang tidak pernah disangka hadir di satu Desember sore
Hadiah dari Semesta, aku kembalikan ke Semesta juga
Air mata menjadi doa-doa, sebuah dzikir untuk membawamu pulang

Pulanglah, Pulanglah
Biar Tuhan menggiringmu pulang,
dan biarlah kita berbahagia menurut takdirNya






You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts