Dari pagi ini aku uring-uringan.
Seperti biasanya yang sering terjadi di setiap akhir minggu. Rasa rindu yang bukan sepenuhnya milikku selalu cuti di hari kerja dan tiba tiba menyusup masuk sampai lembur hanya di hari libur. Rindu seperti menunggu-nunggu waktu dimana bisa menikmati perenungannya secara maksimal sedangkan aku seperti orang tersamber tiba-tiba ngenyut sendiri di tengah aktivitasku. Rindu meletup-letup seperti balon besar yang dengan sekali tusuk mungkin akan pecah.
Haahh kataku menepis. Aku muak dengan rindu yang hanya basa basi. Aku muak dengan penyesalan, padahal ada yang namanya perubahan. Aku muak, dengan kepengecutan juga dengan kepecundangan.
Kepalaku sakit. Badanku layaknya memar digebuk satu kampung. Hatiku ikut sebentar runyam, sebentar marah, sebentar kalut dan sebentar melembut palsu. Jangankan mau berbincang, memikirkanmu saja sudah sama dengan menyerahkan diri terang-terangan kepada semua makhluk yang bersarang di dalam dirimu. Bagaimana ya rasanya jadi kamu kalau aku saja bisa seperti ini sakitnya?
Sebetulnya sudah kulepaskan dirimu kepada semesta. Biarlah semesta yang berbicara atas urusanmu, sedangkan aku biar fokus terhadap urusanku yang bejibun. Tapi hati seorang aku selalu pilu melihatmu bergonta ganti wajah setiap waktu, wajah hilir mudir seperti keramaian tengah pasar. Wajah memiliki mata. Mata mencerminkan hati. Hati yang kukenal, sampai yang paling asing sampai yang paling murka dan sampai yang paling seram. Setengah dirimu kurasakan sudah kukenal jauh dalam di hati. Begitu akrab, begitu lapang, dan begitu tulus. Setengahnya lagi begitu asing. Begitu keji, dan begitu bulus.
Sayangnya tangan yang pernah kuulurkan tidak pernah kamu ambil, apalagi berharap menyelamatkan dirimu sendiri. Kakimu terlalu dalam terikat dalam satu lingkaran sampai bergerak dari masa lalu pun sulit untukmu. Sulit beranjak, dan selalu ditarik kembali. Bagaimana kamu mau tinggal pergi? Bagaimana kamu bisa hidup tanpa punya tujuan seperti ini?
Pilu dan rindu jadi satu. Dan hatiku tetap akan menjadi aku. Bagiku, cukup melihat siapapun, baik-baik saja. Bagiku, melihatmu bisa bangkit kembali pun sudah cukup. Bagiku, melihatmu utuh dirimu dan mendapatkan kasih sayang ibu sejati yang sudah lama kamu rindukan sudah cukup. Mungkin kita memang ditakdirkan hanya menjadi teman pena atau sesama penulis yang gemar membaca tulisan sejawatnya. Mungkin kita hanya dua bocah yang mati bergenggaman tangan di masa lampau dan dipertemukan sekilas di kehidupan ini. Dan mungkin kamu tuan akan tetap jadi kamu dengan hidupmu, sedang aku dengan hidupku, yang sungguh bagiku diantara kesederhanaannya sudah sangat cukup. Dan aku akan tetap akan menjadi aku. Tetap seorang negeri, menegur yang salah, mengikhlaskan semua yang karam, dan mendoakan semua yang terbaik sepanjang hidupmu.
Icarus
Hari kelahiran tidak pernah istimewa menurutmu
Hanya satu hari yang lain diantara hari-hari yang lain
Hari lain untuk menyiram tomat,
membaca berita,
menyebrangi jembatan,
melengos bosan dari bukitan
Hari kelahiran—biasanya biasa saja untukmu
tapi biar doaku, untukmu di luar biasanya
Biar kuat kokoh lengan sayapmu
Permadani empuk lautmu
Semoga langit cerah, tidak terlalu terik, tidak juga badai petir
Juga satu keberanian untuk terbang sekali, dan sekali lagi
dan selalu sekali lagi
Sepanjang hidupmu
- 26 juli 2026





