Langit di perjalanan pulang
Mungkin hidup sebaik-baiknya adalah tentang mengupayakan. Mengupayakan yang terbaik untuk semua. Berbuat baik, memenuhi kewajiban, menjalankan pekerjaan, mengerjakan tugas, menjadi anak, menjadi kakak, menjadi sahabat, menjadi teman, menjadi pengasuh hewan dan tumbuhan, bermasyarakat, dan menjadi hamba Tuhan. Apapun peran yang dijalankan. Sesederhana itu.
---
Sore kemarin, kupandangi langit di perjalanan pulang untuk bekerja. Di sakuku hanya ada 40 ribu, hanya cukup untuk berjaga-jaga. Bensin ku hampir menyentuh 0. Mobilku sudah bergoyang, tanda ia butuh di servis, tidak ayal juga ngilu gigiku. Aku cekikikan. Nikmat sekali. Perkara hidup pribadiku tidak pernah benar-benar menjadi persoalan. Aku percaya Tuhan akan selalu cukupkan.
Aku kembali menatap langit. Langit dipenuhi kapas, awan berlalu lalang berjubelan. Sesungguhnya aku senang sekali berkendara, apalagi perjalanan panjang seperti ini yang tidak memerlukan kecermatan. Sebuah ruang mungil milikku sendiri tanpa distraksi media sosial, ataupun hingar bingar lainnya. Hanya aku, jalan, dan musik pilihan yang mengalun kencang berulang-ulang.
Aku terdiam, sebuah upaya untuk melapangkan dada dan mengikhlaskan hati atas segala kekisruhan duniawi, semua tanggung jawab yang harus aku emban. Perkara-perkara banyak sekali yang harus aku cari jalan keluarnya. Perkara-perkara dasyat. Sampai rumah nanti, aku harus menjadi professional. Menjadi pendengar terbaik, atasan terbaik, anak terbaik, dan pemimpin terbaik. Sebaik-baiknya peran yang bisa kulakukan. Hidup adalah perihal mengupayakan, kan
---
Bagaikan sebuah anak panah, aku membutuhkan waktu rehat yang sedikit lebih panjang dibanding orang lainnya untuk bisa melaju pesat dengan totalitas dan cermat. Maka hari sebelumnya aku habiskan dengan tidur dan mencari hiburan. Kata kedua sahabatku, "istirahatlah, sudah lama kamu belum me time". Benar juga. Sahabat-sahabatku paling tau. Kalau kata Dania, "Akan Alifa hadapi dunia, tapi tidur cukup dulu". Bahkan, istirahat maksimal pun adalah sebuah upaya agar bisa melesat tajam.
Maka malam ini pun aku menulis. Sebuah acara untuk meregangkan tengkuk yang tegang dan ruang perenungan.
Pekerjaan-pekerjaan yang inginnya kuhindari, tapi tetap kulakukan.
Percakapan yang ingin kulewati, (setelah berdoa panjang), tapi tetap kubicarakan.
Pertemuan-pertemuan yang gentar kutemui, tetapi dengan nekat dan tekad tetap kusantronkan.
Kalau kata Broggy di One Piece Live Action Season 2 (iya tetep promosi),
"True bravery isn't the absence of fear, but going to war in spite of it" .
EAK. (selalu bisa ngelawak karena hidup harus ttp ketawa fren)
Sebuah niat berupa ikhtiar. Tugasku hanya mengupayakan, memperjuangkan, pengorbanan (kata dania dan jane, cukup pengorbananmu untuk segala hal yang lain2 aja, soal cinta biar laki-lakinya HAHAHA). Walau hasilnya belum tentu sesuai impian. Yang terbaik belum tentu terbaik dan yang terburuk belum tentu yang terburuk, bukan?
Suatu harapan Langit melihat langkah perjuangan, seorang anak manusia kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa tanpa ridho dan uluran tanganNya.
Akhir kata, yuk mari semangat. Langit masih biru, awan masih putih, dan berkah juga kebahagiaan, terus datang bertubi-tubi. Semangat Ifa, kita upayakan yang terbaik lagi hari ini. yang terbaik lagi hari ini.






