29.
Angka yang tidak kusukai. Angka yang menurutku janggal sekali. Perkara gendutnya dibalik ke atas, jadi bikin gelisah dihati. 26 is a perfect number. 29, no no. Sampai sempat kukemukakan kalau aku lebih senang jika usia kali ini akselerasi langsung jadi 30 saja. Kayak lift yang bisa skip level lantai, bolehlah ya kalau umur juga di skip #plak.
Kalau logue town (tetep one piece reference) bisa diganti jadi angka, maka angkanya adalah 29. Epilog dan Prolog. Sebuah angka transisi, antara akhir dan permulaan. Masa abu-abu dimana perkara lama belum sepenuhnya usai, dan hidup baru belum sepenuhnya sampai.
Menuju 29 ini, rasanya aku sudah diremukkan, hancur, ditata, bangkit, hancur, bangkit, ratusan kali. Dalam satu bulan terakhir saja, aku sudah menjadi pengangguran, divonis terminal tokso sehingga harus melepas anak-anakku—kucing-kucing ini. Belum lagi kematian yang datang silih berganti dalam jeda yang begitu pendek. Tante iin, Aul, Ucil kucing yang kurescue, dalam satu minggu yang sama. Dan gongnya, di malam sebelum hari ulang tahunku, sahabatku—saudaraku, pergi entah kemana rimbanya.
Mungkin memang hidup adalah perkara melepaskan. Banyak sekali yang kulepaskan dan harus kulepaskan tahun ini. Banyak hal yang harus kuikhlaskan dan kuserahkan kembali kuasanya kepada Yang Maha Kuasa, sebaik-baiknya penulis naskah terbaik untukku.









