29

August 26, 2026

 


29. 
Angka yang tidak kusukai. Angka yang menurutku janggal sekali. Perkara gendutnya dibalik ke atas, jadi bikin gelisah dihati. 26 is a perfect number. 29, no no. Sampai sempat kukemukakan kalau aku lebih senang jika usia kali ini akselerasi langsung jadi 30 saja. Kayak lift yang bisa skip level lantai, bolehlah ya kalau umur juga di skip #plak. 

Kalau logue town (tetep one piece reference) bisa diganti jadi angka, maka angkanya adalah 29. Epilog dan Prolog. Sebuah angka transisi, antara akhir dan permulaan. Masa abu-abu dimana perkara lama belum sepenuhnya usai, dan hidup baru belum sepenuhnya sampai.  

Menuju 29 ini, rasanya aku sudah diremukkan, hancur, ditata, bangkit, hancur, bangkit, ratusan kali. Dalam satu bulan terakhir saja, aku sudah menjadi pengangguran, divonis terminal tokso sehingga harus melepas anak-anakku—kucing-kucing ini.  Belum lagi kematian yang datang silih berganti dalam jeda yang begitu pendek. Tante iin, Aul, Ucil kucing yang kurescue, dalam satu minggu yang sama. Dan gongnya, di malam sebelum hari ulang tahunku, sahabatku—saudaraku, pergi entah kemana rimbanya. 

Mungkin memang hidup adalah perkara melepaskan. Banyak sekali yang kulepaskan dan harus kulepaskan tahun ini. Banyak hal yang harus kuikhlaskan dan kuserahkan kembali kuasanya kepada Yang Maha Kuasa, sebaik-baiknya penulis naskah terbaik untukku. 

Di Anjungan Kapal

Di anjungan kapal 3 wanita menatap lautan
Masing-masing tidak saling kenal satu sama lain
Perempuan di tengah tersenyum menatap gelombang
Hatinya—lautan, merasa dirangkul kembali ke rumah. 
Lautan adalah rumah. Bumi ayahnya. Langit, ibunya, semesta rahimnya. 
Perempuan tersenyum memejamkan mata
“Angin, bawa kemelekatanku pergi”, Bisiknya
Nasibnya sudah dia serahkan sepenuhnya ke Yang Maha Kuasa
Perempuan meninggalkan semuanya. Menanggalkan seluruhnya.
Jabatan.
Kisah.
Harta. 
“Aku lahir hanya membawa hatiku, perbuatanku. Mati pun hanya itu yang kubawa”
Takdiria percaya
Penulis kisah terbaik dalam hidupnya. 
Kisah penuh kasih ataupun yang tragis sembilu—adalah kisah terbaik yang ditulis Sang Pencipta.
Syukurnya hanya bertambah bertubi2.
Syukurnya bertambah bertubi2.
“Tuhan, aku hanya manusia biasa yang mudah tersesat. Maka tuntunlah aku selalu dalam rahmatMu”
Di anjungan kapal,
Perempuan menyerahkan lebih dalam lagi hidupnya kepada Langit
Tuhan, yang maha menggerakkan hati manusia. 
Teguhkan lagi langkahnya
Kokohkan lagi hatinya
Mudahkan upaya harap terbaiknya
Menjalani hidup dengan keikhlasan terdalam lagi

22 May 2026 

22 May lalu sempat kutuliskan sebuah perenungan tentang makna melepaskan. Dania yang membaca tulisanku ini sampai beruraian air mata karena bisa merasakan keikhlasan yang coba kukumpulkan. Perkara cinta pun, sudah kulepaskan ke semesta. Biarlah menjadi urusan semesta apa yang ia lakukan. Toh bukan tugasku untuk melaut, dan sebuah maaf hanya menjadi maaf jika hanya di bibir. Maaf pasti dimaafkan. Tapi kesempatan, hanya bisa dipertimbangkan jika ada bukti, perubahan dan aksi yang nyata. 

Satu persatu, apa yang sudah kuikhlaskan dari lama ini menjadi kenyataan. Kata cuman kata kalau tanpa pembuktian. Hidup itu yang diperlukan adalah aksi, bukan cuman basa basi. 

Maka kubuktikan bahwa benar aku bisa melepaskan dengan lapang semua harkat dan harta. Justru lebih sulit bagiku untuk melepaskan kisah, sosok-sosok yang ku sayang. Karena kisah adalah bagian dari hidupku. Contohnya melepas Mochi yang saat ini bersandar di cekung lenganku. Bagaimana caranya?

Hatiku berkecamuk. Satu kerinduan. Dua ketakutan. Tiga haru biru. Empat gelak tawa. 5 Keberanian. 6 Keikhlasan. 7 Terseok-seok. 8 rasa syukur. 9 rasa juang. 10 doa. 

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan dari usia 29 ini. Tapi kalau aku boleh mencoba meminta,

Jika diizinkan Langit, aku ingin saudaraku segera pulang dalam keadaan baik-baik saja. 
Pulanglah, jangan pergi lagi. Bukannya kita sudah berjanji akan hidup bersama bersebelahan rumah sampai tua nanti? 
Jika diizinkan Langit, aku ingin semua perkara ini bisa selesai. Yang benar bisa kubela sampai titik darah penghabisan. Dan yang tersisa, biar hanya perdamaian. 
Jika diizinkan Langit, Teratai Hijau bisa sukses dan tumbuh bergandengan bersama. 
Jika diizinkan Langit, aku ingin hidup bersama belahan jiwaku, entah siapa dimana dia. 

Di usia 29 ini, mungkin aku akan jadi ultraman. Mungkin juga jadi perkedel. Mungkin juga jadi Ultraman Perkedel. Kita lihat nanti. Yang penting, yuk semangat lagi. Kebahagiaan dan rasa syukur, terus banyak bertubi-tubi

Happy birthday 29, Ifa. Tetaplah hidup bermodal keinginan untuk terus memperbaiki diri dan mau melakukan yang terbaik.

You aged well. Good job. Good job. Everything’s gonna be okay. You will. 



You Might Also Like

1 komentar