izinkan aku menulis tentangmu untuk terakhir kalinya
September 21, 2026Dari pagi ini aku uring-uringan.
Seperti biasanya yang sering terjadi di setiap akhir minggu. Rasa rindu yang bukan sepenuhnya milikku selalu cuti di hari kerja dan tiba tiba menyusup masuk sampai lembur hanya di hari libur. Rindu seperti menunggu-nunggu waktu dimana bisa menikmati perenungannya secara maksimal sedangkan aku seperti orang tersamber tiba-tiba ngenyut sendiri di tengah aktivitasku. Rindu meletup-letup seperti balon besar yang dengan sekali tusuk mungkin akan pecah.
Haahh kataku menepis. Aku muak dengan rindu yang hanya basa basi. Aku muak dengan penyesalan, padahal ada yang namanya perubahan. Aku muak, dengan kepengecutan juga dengan kepecundangan.
Kepalaku sakit. Badanku layaknya memar digebuk satu kampung. Jangankan mau berbincang, terpikirkanmu saja sudah sama dengan menyerahkan diri terang-terangan kepada semua makhluk yang bersarang di dalam dirimu. Bagaimana ya rasanya jadi kamu kalau aku saja bisa seperti ini sakitnya?
Sesungguhnya sudah kulepaskan dirimu kepada semesta. Biarlah semesta yang berbicara atas urusanmu, sedangkan aku biar fokus terhadap urusanku yang bejibun. Tapi hati seorang aku selalu pilu melihatmu bergonta ganti wajah setiap waktu. Wajah hilir mudir seperti keramaian tengah pasar. Wajah memiliki mata. Mata mencerminkan hati. Hati yang kukenal, sampai yang paling asing, sampai yang paling murka dan sampai yang paling mati. Setengah hatiku mengenalmu dalam. Dengan kekurangannya, kelebihannya. Setengahnya lagi tidak mengenalmu sama sekali. Begitu asing.
Kakimu terlalu dalam terikat dalam sebuah lingkaran sampai bergerak selalu sulit untukmu. Seperti ada yang selalu menahanmu terbang dari pulau diujung sana walau hati dan fikiranmu sudah mengepakkan sayap. Masa lalu bermain seperti diorama dikepalamu, tanpa adanya masa depan. Sulit beranjak, dan selalu ditarik kembali. Sayangnya lagi, tangan yang pernah kuulurkan tidak pernah kamu ambil, bagaimana bisa berharap menyelamatkan dirimu sendiri. Tidakkah kau sadar dirimu sudah lama sejatinya bukan sepenuhnya dirimu? Sampai kapan kau biarkan dirimu seperti ini? Padahal jalan keluar sudah kutunjuk arah mata anginnya? Bagaimana kamu mau pergi? Bagaimana kamu bisa hidup tanpa punya tujuan seperti ini?
Atau mungkin kita ditakdirkan memang hanya menjadi teman pena. Sesama penulis yang gemar membaca tulisan sejawatnya. Atau mungkin kita hanya dua anak manusia yang mati menggenggam tangan satu sama lain di kehidupan yang jauh sudah tidak kita kenali namun ingat dalam rasanya. Dan mungkin kamu tuan akan tetap jadi kamu dengan pola-pola buruk hidupmu ini selamanya, tidak mau berubah sampai mati. Sedang aku tetaplah menjadi aku. Akan terus maju walau terseok-seok. Akan terus mau berubah walau merubah diri rasanya seperti menaiki anak tangga yang acap sekali membuatku tergelincir, berdarah-darah, dan memulai lagi menaiki setingkat demi setingkat. Bagiku, cukup melihat siapapun, baik-baik saja. Bagiku, tidak ada kata benci untuk siapapun. Dan bagiku, melihatmu utuh dirimu dan suatu hari nanti bisa merasakan kasih sayang ibu sejati yang sudah lama kamu rindukan, sudah cukup. Kesederhanaan hidup yang penuh kebahagiaan dan keberkahan, bagiku sudah cukup. Aku tetaplah aku. Tetap seorang negeri, menegur yang salah, mengikhlaskan semua yang karam, dan diantara omelanku, selalu ku doakan yang terbaik untuk siapapun, tentunya juga untukmu.
Icarus
Hari kelahiran tidak pernah istimewa menurutmu
Hanya satu hari yang lain diantara hari-hari yang lain
Hari lain untuk menyiram tomat,
membaca berita,
menyebrangi jembatan,
melengos bosan dari bukitan
Hari kelahiran—biasanya biasa saja untukmu
tapi biar doaku, untukmu di luar biasanya
Biar kuat kokoh lengan sayapmu
Permadani empuk lautmu
Semoga langit cerah, tidak terlalu terik, tidak juga badai petir
Juga satu keberanian untuk terbang sekali, dan sekali lagi
dan selalu sekali lagi
Sepanjang hidupmu
- 26 juli 2026
0 komentar