Tuhan....
Aku letih.
Semalam aku berkendara pulang pukul 00.00 dini hari
Melalui jalan-jalan bergenang dan percik-percik sisa hujan,
juga polisi tidur yang muncul tiap 3 meter sekali.
Satu kali lagi berguncang, satu kali lagi berguncang
Konon, caranya melewati polisi tidur sebaik mungkin adalah dengan menahan diri.
Menahan sedikit, dan sedikit lagi.
Sedikit lagi. Sampai nanti?
Tuhan,
Sakuku kemarau, sekujurnya habis oleh rinai hujan membasahi
Silih berganti tiada henti, tiada henti
Aku tahu ini adalah berkah agung yang kau beri
Karena engkau begitu menyayangi
Tapi aku yang kecil ini, kalau boleh ingin sedikit sembunyi.
Dengan satu harapan,
Doa halus dibalik selimutnya bisa didengar oleh Langit
Lalu mungkin seluruh penduduknya akan mengasihi,
dan membiarkan rintiknya berhenti sendiri
Tuhan,
Konon kabarnya, jika ingin membangun otot
Tubuh kita harus diberikan beban yang berat berkali-kali
Agar dia pecah, hancur, dan terbentuk kembali menjadi gumpalan yang lebih alit
Sudah sekokoh apa aku, Tuhan?
Tuhan,
Jika memang ini jalan hidupku yang harus kujalani.
Akan aku ikhlaskan hati ini lebih dalam lagi,
dan berjalan dengan satu derap perjuangan lagi.
Tuhan...
Kokohkan aku lagi..







